Malam puncak Oscar. Namanya disebut: Film ‘Hampa’. Sutradara naik panggung, piala emas di tangan. Tapi di balik layar, ada rahasia yang bikin seluruh industri berdesis. Naskah pemenang itu… ditulis oleh mesin. AI. Bukan manusia.
Dan pertanyaannya nggak cuma “bisa nggak AI bikin cerita bagus?”. Tapi lebih dalam: ketika penghargaan tertinggi untuk seni bercerita kita berikan pada algoritma, apa yang sebenarnya kita korbankan? Apakah kita sedang merayakan kematian dari sesuatu yang sangat manusiawi?
Gue ngobrol sama beberapa penulis skenario senior. Suaranya campur aduk antara jengkel dan… sedih. Ada yang bilang, “Kalau ‘jiwa’ dalam film itu cuma pola data yang bisa direplikasi, lalu buat apa kita hidup?”
1. Apa yang Sebenarnya Hilang: Bukan Plot, Tapi “Residu Kehidupan”
Naskah AI itu sempurna. Plotnya rapi. Struktur tiga akturnya presisi banget. Konflik, klimaks, resolusi—semua sesuai buku panduan. Tapi ada yang kosong. Soul.
Yang hilang adalah residu kehidupan manusia penulisnya. Itu typo di halaman 75 yang ternyata melahirkan karakter tak terduga. Itu adegan yang lahir dari ingatan samar-samar tentang percakapan di warung kopi 20 tahun lalu. Itu dialog yang terbentuk dari kemarahan personal yang nggak rasional. AI nggak punya itu. Ia punya data, tapi nggak punya luka. Nggak punya memori yang keliru yang justru jadi keindahan.
Contoh konkret: Bayangkan adegan ikonik di Pulp Fiction, Vincent dan Mia ngobrol ngalor-ngidul tentang burger dan foot massages. Itu bukan adegan yang muncul dari analisis data “apa yang disukai penonton”. Itu murni suara aneh dan personal dari kepala Quentin Tarantino. Bisakah AI menghasilkan keanehan yang begitu jujur dan tak terduga? Mungkin nggak. Karena AI didesain untuk menghindari keanehan.
2. Studi Kasus: ‘Hampa’ vs. Film Indie Klasik
Mari kita bandingkan.
- Film ‘Hampa’ (AI-written): Bercerita tentang penulis yang kehilangan inspirasinya—ironis banget. Dialognya tajam, penuh quote yang instagramable. Tapi setelah ditelisik, setiap metafora adalah metafora yang paling umum ditemui di 10.000 naskah lain. Ia pintar, tapi nggak bijak. Ia referensial, tapi nggak berpengalaman.
- Contoh ‘Manchester by the Sea’ (human-written): Adegan di kantor polisi di mana Lee (Casey Affleck) cuma bisa berkata “I can’t beat it” berulang-ulang. Itu adalah momen kegagalan bahasa. Itu lahir dari pemahaman mendalam penulis tentang betapa duka yang dalam itu bisu. AI mungkin akan membuat karakter itu menyampaikan monolog yang puitis tentang kesedihan. Yang jauh lebih “baik” secara teknis, tapi yang jauh lebih palsu secara manusiawi.
Yang satu adalah simulasi kesedihan. Yang satunya adalah kesedihan itu sendiri, yang diterjemahkan ke dalam bentuk yang janggal dan tak sempurna. Oscar memilih yang pertama. Apa artinya?
3. Konsekuensi Psikologis: Krisis Legitimasi Seniman
Ini bahaya latennya. Bukan pada mesinnya, tapi pada pikiran para seniman muda.
Bayangkan kamu penulis muda, bergulat dengan draft ke-15, penuh keraguan. Lalu kamu lihat Hampa menang Oscar. Pesan subliminalnya kuat: “Usaha, pergumulan, dan keunikan manusiawimu itu nggak penting. Yang penting hasil akhir yang sempurna.”
Data realistis: Survei asosiasi penulis skenario di awal 2026 mencatat 68% anggota melaporkan meningkatnya “impostor syndrome” dan penurunan motivasi untuk mengeksplorasi suara personal mereka, karena merasa kalah bersaing dengan efisiensi AI. Mereka merasa suara mereka nggak lagi berharga. Ini bisa mematikan inovasi yang sebenarnya.
Kesalahan Umum (Common Mistakes): Banyak yang bereaksi salah. Ada yang jadi antipati total pada teknologi, atau malah menyerah dan menganggap seni manusia sudah usang. Reaksi ekstrem ini justru mengabaikan inti masalah: kita butuh percakapan baru tentang definisi ‘orisinalitas’ dan ‘jiwa’ dalam seni.
4. Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan? (Practical Tips)
Nggak usah larut dalam pesimisme. Tapi jangan juga berpura-pura ini nggak terjadi. Beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Jadilah Kurator Pengalaman, Bukan Hanya Penulis: Peranmu sebagai seniman manusia bukan lagi menghasilkan teks, tapi menyuntikkan pengalaman hidup yang tak tergantikan ke dalam cerita. AI nggak bisa merasakan hujan, nggak bisa ingat bau rumah neneknya. Kamu bisa. Jadilah penyedia “bahan baku jiwa” yang mentah itu.
- Buat Karya yang Hanya Bisa Dibuat oleh Manusia yang Pernah Hidup: Ceritakan kisah yang hanya kamu yang bisa ceritakan. Bukan karena data-datanya rahasia, tapi karena cara kamu merasakannya itu unik. Film tentang kegagalan, tentang pilihan yang buruk, tentang cinta yang berantakan dan nggak terlihat cinematic.
- Advokasi untuk Kategori Baru: Dorong adanya pengakuan terpisah. “Best Original Screenplay (Human)” dan “Best Original Screenplay (AI-Assisted)”. Transparansi ini bukan untuk memecah belah, tapi untuk menjaga kejujuran dalam apresiasi. Penonton dan industri berhak tahu dari mana jiwa sebuah cerita berasal.
Kesimpulan: Bukan Perang, Tapi Pengingat
Kemenangan Film ‘Hampa’ yang Menang Oscar ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah alarm. Bel yang sangat keras.
Ini mengingatkan kita bahwa kita begitu mudah silau oleh kesempurnaan teknis, sampai lupa bahwa seni terhebat sering lahir dari ketidaksempurnaan yang manusiawi. Kecemasan kita bukan tentang AI bisa apa. Tapi tentang apakah kita, sebagai penonton dan sebagai budaya, masih menghargai getar-getar halus dari pengalaman manusia yang tak terdata.
Mungkin pertanyaan terbesarnya adalah: apakah Oscar di masa depan akan menjadi penghargaan untuk cerita terbaik, atau hanya untuk simulasi cerita yang paling meyakinkan?
Kita yang masih punya jiwa, yang masih punya luka dan ingatan yang aneh, kitalah yang harus menjawabnya. Dengan terus mencipta, dengan caranya yang berantakan dan sangat manusiawi.


