Halo para korban bundling streaming! Yang tiap bulan liat mutasi rekening tiba-tiba bokek padahal cuma nonton. Yang punya 3 platform tapi yang ditonton itu-itu aja. Yang masih galau antara lanjut langganan atau pindah karena harganya naik terus. Gua ngerti banget perasaan lo.
Pertanyaan besar di awal 2026 ini: Netflix vs Disney+ vs Prime Video: Mana Platform Streaming Paling Worth It buat 2026? Jawabannya nggak sesederhana “yang paling murah”. Karena percaya atau nggak, yang murah bisa jadi yang paling mahal kalau lo nggak nonton.
Gua kasih hitung-hitungan matematisnya. Biar Rp 150.000 lo tiap bulan nggak cuma jadi uang hangus buat langganan yang cuma lo buka pas lagi gabut doang.
Bukan Sekadar Banyak Film, Tapi Berapa Jam Lo Nonton
Coba lo hitung. Rata-rata orang Indonesia habiskan 3-4 jam per hari buat nonton sesuatu. Tapi berapa banyak dari waktu itu yang bener-bener lo habiskan di platform berbayar? Atau jangan-jangan lo lebih sering scrolling Netflix 30 menit, bingung mau nonton apa, akhirnya nonton YouTube lagi?
Metrik worth it itu sederhana: Rp per jam tontonan. Kalau lo bayar Netflix Rp 120.000 sebulan tapi coba lo itung total jam nonton lo. Misal nonton Cuma 10 jam sebulan, berarti lo bayar Rp 12.000 per jam. Mahal kan? Bandingin sama beli tiket bioskop sekali Rp 50.000 buat 2 jam (Rp 25.000/jam) tapi dapet pengalaman layar gede dan popcorn.
Nah, daripada lo bakar uang tiap bulan, mending kita bedah satu-satu kondisi pasar streaming 2026 ini.
Update Harga Terbaru 2026 (Siap-Siap Kaget)
Sebelum lo mutusin, lo harus tahu dulu harga terkini. Karena semua platform pada naik lagi. Duit lo makin tipis.
- Paket Ponsel (Mobile – 480p, 1 layar): Rp 54.000/bulan
- Paket Dasar (Basic – 720p, 1 layar): Rp 65.000/bulan
- Paket Standar (Standard – 1080p, 2 layar): Rp 120.000/bulan
- Paket Premium (4K + HDR, 4 layar): Rp 186.000/bulan
Catatan penting: Netflix sekarang strict banget soal password sharing. Kalau lo mau nambah anggota luar rumah, kena biaya tambahan sekitar Rp 49.000 per orang per bulan . Udah siap mental?
- Standar dengan Iklan (Full HD, 2 layar): sekitar Rp 110.000/bulan (konversi dari EUR 6,99)
- Standar (Full HD, 2 layar, no ads, download): sekitar Rp 175.000/bulan (konversi EUR 10,99)
- Premium (4K UHD HDR, 4 layar, Dolby Atmos): sekitar Rp 255.000/bulan (konversi EUR 15,99)
- Masih jadi yang termurah: sekitar Rp 79.000/bulan (konversi USD 4,99) atau Rp 790.000/tahun
- Bonus: gratis ongkir belanja di Amazon (kalau lo belanja di situ)
- Standar (Full HD, 2 layar, 30 download): sekitar Rp 3.8 juta/tahun? (MEX 239 pesos, konversi kasar)
- Platino (4K, 4 layar, 100 download, Dolby Atmos): sekitar Rp 4.8 juta/tahun? (MEX 299 pesos, konversi kasar)
Catatan: harga di atas estimasi konversi dari regional lain karena data Indonesia nggak tersedia. Bisa beda tipis.
Studi Kasus: Tiga Tipe Penonton, Tiga Pilihan Berbeda
Biar nggak abstrak, gua kasih contoh nyata.
Kasus 1: Keluarga Muda dengan Bocil (Seperti Budi, 34 tahun)
Budi punya anak 2 (5 dan 7 tahun). Istri suka nonton drama korea. Budi sendiri penggemar Marvel. Dulu mereka langganan Netflix, tapi anak-anak selalu minta Putri Salju atau Frozen yang suka ilang muncul.
Solusi: Disney+ Premium (Rp 255.000) . Dengan 4 layar, Budi bisa nonton Marvel, istri nonton Hulu content (terintegrasi di Disney+), anak-anak puas sama Disney classics dan Pixar . Buat keluarga, Disney+ tuh juara karena kontennya aman, banyak, dan bikin anak betah . Investasi Rp 255.000 buat 4 orang, dibagi per orang cuma Rp 63.750. Bandingin kalau ngajak nonton bioskop 4 orang, sekali aja udah Rp 300.000.
Kasus 2: Anak Muda Kost yang Suka Nonton Series (Seperti Dita, 22 tahun)
Dita tinggal sendiri di kost. Dia pengikut setia series trending biar bisa ikut ngomongin di kantor. Tapi dompet pas-pasan. Dia suka nonton di HP.
Solusi: Netflix Paket Ponsel (Rp 54.000) + Akun Pinjaman Temen buat HBO/Disney+ (bergantian) . Paket ponsel Netflix cuma Rp 54.000, cukup buat nonton di HP dengan kualitas standar. Lumayan buat ngikutin series Netflix original yang hits kayak Adolescence atau Baby Reindeer . Sisanya, Dita bisa “numpang” akun temen atau pake aplikasi berbagi kayak Sharingful (kalau ada di Indo) buat nonton series lain yang cuma tayang di platform lain . Dengan Rp 54.000, Dita tetap bisa jadi warga negara yang update series.
Kasus 3: Pasangan Muda yang Suka Nonton Film Bareng (Seperti Raka dan Sari, 28 & 27 tahun)
Mereka suka nonton film bareng di TV LED kamar tiap weekend. Suka film barat, kadang drama. Bingung pilih platform mana.
Solusi: Prime Video (Rp 79.000) + Netflix Standar (Rp 120.000) = Rp 199.000. Tapi, mereka harus hitung jam nonton. Kalau tiap weekend nonton 2 film (4 jam) plus series, total mungkin 20 jam sebulan. Berarti Rp 10.000 per jam buat berdua. Lumayan. Prime Video jadi pilihan karena library filmnya lengkap banget, dari lawas sampai baru, dan harga per bulannya paling murah . Netflix buat series original dan konten lokal. Tapi mereka harus siap-siap kalau Netflix standar cuma 2 layar, jadi nggak bisa dipake di HP dan TV sekaligus kalau beda konten.
Yang Sering Bikin Orang Salah Langkah
Dari ketiga kasus di atas, lo bisa lihat polanya. Tapi banyak juga yang salah langkah. Catat nih:
- Ambil Paket Premium Sendirian. Ini dosa besar. Lo bayar mahal buat 4K dan 4 layar, tapi nonton sendirian di HP 6 inci. Mending ambil paket standar atau malah ponsel, terus duit sisanya buat jajan.
- Berlangganan Platform yang Nggak Lo Tonton. Coba cek history. Lo langganan Disney+ sebulan, tapi yang ditonton cuma 2 film. Itu mah sama aja lo nyumbang. Mending beli sewa di Google Play atau YouTube pas lagi pengen nonton film tertentu.
- Lupa Manfaatin Trial dan Promo. Banyak platform kasih trial 7-30 hari. Manfaatin! Tonton semua series yang lo mau dalam masa trial. Abis itu cancel. Nanti pas series baru rilis, langganan lagi. Ini strategi “nonton borongan”.
- Nggak Ngitung Biaya per Orang. Kalau lo tinggal berdua atau bertiga, hitung dulu. Ambil paket 4 layar terus dibagi bertiga bisa lebih murah daripada masing-masing ambil paket sendiri. Asal komitmen bayar dan nggak rebutan jam nonton.
- Terjebak Harga Awal. “Wah cuma Rp 50.000!” Eh, pas bulan depan tagihan jadi Rp 150.000 karena promo berakhir. Baca detailnya!
Tabel Pintas Biar Nggak Pusing
Biar lebih gampang, gua buatin tabel sederhana.
Kesimpulan: Mana yang Paling Worth It?
Jawabannya balik lagi ke lo. Tapi gua kasih rumusnya:
Platform Streaming paling worth it buat 2026 adalah yang sesuai dengan ritme nonton lo.
- Kalau lo tipe “nonton semua series yang lagi viral biar bisa ikut ngomong”: Netflix jawabannya.
- Kalau lo punya anak atau suka dunia Marvel/Star Wars: Disney+ nggak ada lawan.
- Kalau lo pencinta film dengan budget terbatas: Prime Video juara性价比.
- Kalau lo penggemar series kualitas dewa kayak House of the Dragon atau The Last of Us: HBO Max adalah surga.
Atau, solusi paling licik: patungan ber-3 atau ber-4, ambil paket paling tinggi, bagi rata. Tapi pastiin kalian satu frekuensi soal jam nonton. Jangan sampe rebutan!
Inget, Rp 150.000 itu bisa buat beli 15-20 porsi nasi padang. Jangan sampai uang sebanyak itu cuma jadi “iuran” buat platform yang nggak lo nikmati. Hitung jam tontonan lo. Kalau di bawah 10 jam sebulan, mending lo sewa film aja atau manfaatin YouTube.


